Selasa, 16 September 2008

dekanat FT-UNDIP

beberapa saat yang lalu ada wacana dari ibu dekan FT-Undip untuk merenovasi fasade gedung dekanat untuk lebih eksis dalam tampilan dan diharapkan bisa menjadi 'icon' di lingkungan gedung-gedung di fakultas teknik yang telah ada.
kondisi gedung dekanat FT saat ini berada di bawah badan jalan prof.soedarto,SH di depannya, sehingga terkesan 'ambles bumi'. Untuk itu yang tergagas pertama kali adalah mengangkat akses utama ke gedung dekanat yang semula di hall lantai satu, rencanannya akan dipindahkan ke lantai dua dengan menggunakan 'ramp'. Beberapa polesan terhadap fasade dilakukan dengan memberikan tambahan ruang penerima di lantai satu dan dua serta mengangkat sudut atap utama bangunan menjadi lebih tajam.

Minggu, 31 Agustus 2008

STASIUN TAWANG-Mengatasi Masalah Fisik Terpadu

abstrak

Stasiun Tawang (Semarang) dibangun pada tahun 1914, saat ini ditetapkan sebagai salah satu bangunan konservasi di kota Semarang. Keberadaannya sebagai salah satu pusat transportasi dan cagar budaya tentunya akan mendapat banyak perhatian dari masyarakat luas. Pada perkembangannya sekarang, stasiun Tawang menerima dampak dari fenomena banjir dan rob yang melanda bagian utara kota Semarang yang diakibatkan oleh penurunan tanah. Dalam mengatasi permasalahan diatas telah banyak pembangunan dan renovasi fisik dari bangunan stasiun Tawang dilakukan, tetapi sebenarnya tidak akan mengatasi masalah yang sebenarnya, mengingat stasiun Tawang tidak menjadi sumber permasalahan tetapi menerima akibat dari permasalahan lingkungan kotanya.

Kata kunci :
Penanganan fisik yang bersifat partial tidak akan efektif mengatasi masalah, penanganan skala kota secara terpadu merupakan solusinya.

Pendahuluan
Secara umum, topografi wilayah Semarang memiliki kemiringan antara 0 sampai 2% dan ketinggian ruang antara 0-3,5 mdpl. Adapun Semarang bagian atas dengan ketingggian antara 90-200 meter dari permukaan laut.

Semarang sudah menjadi langganan banjir dan rob sejak beberapa tahun yang lalu. Kondisi saat ini, jika penanganan banjir tidak terarah, diperkirakan pada 2019 Semarang bawah akan tenggelam. Prediksi itu didasarkan pada penurunan lahan yang terjadi tahun demi tahun, yang semakin lama semakin mengkhawatirkan. Pada sejumlah kawasan, penurunan terjadi hingga 14 cm ( Dr Ir Suripin MEng. ) Dengan tingkat penurunan satu setengah cm di Tugu Muda, maka dalam jangka waktu 10- 20 tahun ke depan daerah tersebut akan menjadi gigir pantai. ''Itu berarti bencana sudah di depan mata. Pemkot perlu memikirkan secara serius banjir yang terjadi selama ini, Data terakhir yang dapat dilihat tingkat penurunan tanah 0 centimeter di SPBU Kaliwiru, Jl Akpol 0,50 cm, Taman Diponegoro 0,54 cm, Lapangan Bayangkara 0,84 cm, Tugu Muda 1,54 cm, dan stasiun poncol 2,4 cm. Penurunan yang cukup tinggi terjadi di sekitar Jembatan BKB 3,00 cm, Jl Kol Sugiyono 3,80 cm, Jl Imam Bonjol 4,60, Perumahan Semarang Indah, 5,00 cm, Jl Ronggowarsito 5,27 cm, Tanggul BKB Tanah Mas 6,27 cm, dan Tanggul Kali Semarang 7,23 cm. Penurunan lebih dari 10 cm terjadi di Bolt B Sriboga Raturaya 13,50 cm dan Bold T Sriboga Raturaya 14,43 cm.

Prediksi tenggelamnya Semarang bawah sebetulnya bukan isapan jempol. Bila dilihat dari alat ukur di Stasiun Tawang 30 tahun yang lalu masih dua meter di atas permukaan laut (mdpl), kini diperkirakan malah minus dari permukaan laut.
Banjir yang selama ini mendera wilayah Semarang harus diperhatikan melalui tiga hal. Antisipasi banjir bisa dilakukan melalui pemanenan air hujan di daerah atas, pembuatan pompa untuk daerah bawah, serta membendung air laut yang masuk ke daratan. ( Dr Ir Suripin MEng. )

Beberapa survey lapangan telah dilakukan oleh beberapa pakar. Dari survei itu diketahui, penyebab utama banjir dan rob adalah sistem drainase belum berfungsi secara maksimal Penyebab lain, kapasitas sungai dan drainase tidak memadai, sedimentasi, kerusakan pintu air dan talut, serta kurangnya kepedulian masyarakat lingkungan terhadap fungsi drainase.

Beberapa usulan pemikiran dan penyelesaian teknis secara partial terhadap stasiun Tawang telah dilakukan, diantaranya dengan di bangunnya polder tawang untuk mengatasi banjir dan rob di kawasan kota lama.

Stasiun Kereta Api Tawang Semarang dalam menghadapi rob mengandalkan tiga pompa air , kondisi posisi saluran buangan di dalam bangunan stasiun lebih rendah dari saluran kota. Genangan air yang cukup tinggi juga terdapat di jalur rel, yakni jalur tiga dan empat. Kereta api dilewatkan di jalur satu dan dua yang genangan airnya tidak terlalu tinggi. (Rahadi Suprato) .Sejak tahun 1990-an hingga sekarang, bagian dalam stasiun termasuk peron pemberangkatan penumpang telah ditinggikan hingga 80 sentimeter.

Dari gambaran di atas, menjadi jelaslah bagi kita bahwa Stasiun Tawang menerima akibat dari kondisi ketidak mampuan system drainase kota Semarang dalam mengatasi permasalahan banjir dan rob yang disebabkan adanya penurunan tanah di pesisir utara kota.

Mengatasi Permasalahan Stasiun Tawang secara terpadu
Pengatasan Penurunan muka tanah di wilayah utara kota Semarang dan stasiun Tawang termasuk di dalamnya tidak dapat dilakukan dengan partial, mengingat penurunan itu merupakan akumulasi dari kejadian pembangunan di kota Semarang yang pada akhirnya akan berakibat pada eksploitasi dan berkurangnya air tanah. Akibat lebih jauh adalah infiltrasi air laut kedalam daratan yang semakin luas juga terjadinya banjir dan rob.
Pada skala mikro, Stasiun Tawang layak berbenah diri untuk mengatasi permasalahan banjir dan rob yang menimpa saat ini, tetapi tentunya punya keterbatasan secara fisik karena termasuk dalam bangunan konservasi.

Pada skala makro, pemerintah kota dan masyarakat juga layak berbenah diri untuk memperkecil atau bahkan meniadakan tingkat penurunan tanah di wilayah Utara kotaSemarang.
Upaya pembenahan baik di skala mikro stasiun Tawang ataupun skala makro kota Semarang harus mempertimbangkan aspek fisik, social, ekonomi dan regulasi secara terpadu untuk menghasilkan kegiatan penyelesaian parmasalahan yang terbaik.
Aspek fisik, mengetengahkan perbaikan dan pelestarian lingkungan/ ecosystem, daerah hijau dan bangunan. Aspek social, mengacu pada peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Aspek Ekonomi, dilaksanakan secara efektif dan efisien dalam jangka panjang dan Aspek regulasi, harus mensosialisaikan pranata hokum dan penegakannya.
Sebagai ilustrasi , mengacu pada pemikiran tentang banjir yang selama ini mendera wilayah Semarang harus diperhatikan melalui tiga hal. Antisipasi banjir bisa dilakukan melalui pemanenan air hujan di daerah atas, pembuatan pompa untuk daerah bawah, serta membendung air laut yang masuk ke daratan.

Pada skala makro perkotaan, konstruksi Sumur Resapan Air (SRA) merupakan alternatif pilihan dalam mengatasi banjir dan menurunnya permukaan air tanah pada kawasan perumahan, karena dengan pertimbangan : a) pembuatan konstruksi SRA tidak memerlukan biaya besar, b) tidak memerlukan lahan yang luas, dan c) bentuk konstruksi SRA sederhana. Sumur resapan air merupakan rekayasa teknik konservasi air yang berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan diatas atap rumah dan meresapkannya ke dalam tanah (Dephut,1994). Manfaat yang dapat diperoleh dengan pembuatan sumur resapan air antara lain : (1) mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya banjir dan erosi, (2) mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air tanah, (3) mengurangi atau menahan terjadinya intrusi air laut bagi daerah yang berdekatan dengan wilayah pantai, (4) mencegah penurunan atau amblasan lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, dan (5) mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah..( Rachmat Mulyana, 2003 ). Disamping itu pembatasan perijinan untuk menggunakan air dalam/sumur artetis dengan meningkatkan distribusi air bersih terutama di kawasan semarang bagian Utara.

Pada skala mikro kawasan stasiun Tawang dapat dilakukan dengan memanfaatkan daerah bebas di kanan kiri rel kereta api ataupun tanah-tanah yang dikuasai PT. KAI sebagai polder yang difungsikan sebagai pembendung dan penangkap masuknya air rob sebelum memasuki kawasan stasiun Tawang, sedangkan disisi Utara stasiun tawang pada setiap tanah yang kosong, baik oleh PT KAI ataupun pemerintah kota Semarang berupaya untuk membuat hutan bakau sebagai barier.

Penutup.
Gagasan diatas sebagai gambaran bentuk penyelesaian secara terpadu terhadap permasalahan stasiun Tawang pada khususnya dan wilayah Utara kota Semarang pada umumnya. Pemerintah kota dan masyarakat harus mempunyai perhatian dan harus didukung dengan kebijakan pemerintah kota dan keseriusan untuk mensosialisasikan dan menegakkannya.


Selasa, 24 Juni 2008

Muslimkah aku?

Azan pertama sudah berkumandang, sebuah peringatan untuk segera melaksanakan sholat jum’at, ritual mingguan yang hukumnya wajib bagi seorang muslim. Berangkat dengan terlebih dahulu berwudlu sambil berharap mendapatkan bonus tambahan pahala dari Alloh, konon khabarnya setiap langkah yang kita ayunkan menuju masjid adalah pahala.
Masjid Galang Sewu, milik pesantren di belakang kampus yang sederhana kondisinya telah penuh sesak, sehingga dengan memaksakan diri memilih soft dibawah pohon sebagai tempat sholat. Meskipun telah memilih di bawah pohon ternyata tetap tersengat panasnya matahari. Apalah artinya sengatan matahari dibandingkan dengan nikmatnya melaksanakan ibadah karena Alloh.
Sambil terkantuk-kantuk karena sudah beberapa malam tidurnya kacau, suara khotib yang menyampaikan khutbahnya seakan alunan musik yang mendayu untuk lebih menghanyutkan rasa kantuk itu…Yha, Alloh aku malu kepadaMu..setelah rejeki dariMu kuterima, mempertahankan kantuk didepanMu saja aku tak mampu.
Ketika Qomat dikumandangkan, semua orang mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat Jum’at, kurapikan ‘shaft’ku kusiapkan diri untuk menghadap sang Khaliq. Tatapan ku terusik dengan kehadiran seorang anak kecil yang punya keterbelakangan mental..istilah kedokterannya ‘idiot’. Dia berlari dengan mimik gembira sambil mengenakan sarungnya, semangat sekali anak itu untuk melaksanakan ibadahnya.
Ketika shaft sudah teratur dan barisan orang-orang sudah dalam suasana ketenangan bersiap melaksanakan takbir, anak itu dengan riang dan penuh harap dapat mengambil tempat diantara orang-orang itu. Pada kesempatan pertama anak itu tidak diberikan tempat, karena orang-orang itu merapatkan satu sama lain, kesempatan menyelinap kedua, juga tidak diberikan, dengan tetap bersemangat, anak itu mengangguk sebagai tanda permintaan maaf karena telah mengganggu barisan orang-orang itu, anak itu berlari kecil dengan rasa kawatir mungkin terlambat, mencoba kesempatan ketiga….kesempatan itu tidak diberikan lagi oleh barisan shaft yang lain, sambil dimaki oleh orang berkumis disana……….anak kecil itu terdiam, termangu dengan mimik memelas……dia menepi dengan gontai, menggelar sajadahnya yang usang , dekat comberan buangan air kamarmandi dan terkena langsung sengatan matahari siang yang terik………anak kecil itu menata diri dan mengangkat tangan kecilnya……’Allohhuakbar “.
Terpaku ditempatku………sambil terus kutatap adik kecil itu…….’Yha, Alloh,…apakah sudah pantas aku ini mengaku seorang muslim, apakah sudah pantas orang-orang itu mengaku muslim ?’ Ijinkan aku berdo’a kepadaMu Yha Alloh, untuk kebahagiaan anak kecil itu, berikan aku kemampuan untuk dapat membahagiakan anak-anak yang membutuhkan…Amin.

Senin, 23 Juni 2008

sate kapuran

Seorang temen lama mengajak makan siang di warung sate kambing dekat kawasan pecinan, biasanya tawaran sate kambing hampir pasti ditolak, entah mengapa siang ini tak iyakan…..dengan pertimbangan sudah lama tak menikmatinya.

Warung itu cukup ramai, kita mendapatkan tempat diujung dan langsung disambut si pemilik warung itu yang rupanya juga temennya temen tadi. Sambil menikmati hidangan sate kami terlibat dalam suatu obrolan ‘ngalor-ngidul’ yang salah satunya keinginan atau mimpi si pemilik warung untuk mengapgrade performance warungnya, setelah itu semuanya berlangsung datar2 saja.

Obrolan warung sate itu ternyata membekas dibenak, karena keinginan si pemilik terhadap performance warungnya yang asal ditingkat menjadi bangunan 2 lantai, bentuk biasa asal dapat berfungsi ,bawah warung atas rumah tinggal…..statement itu ternyata mengganggu sifat iseng untuk mencoba mewujudkan mimpinya dengan suatu konsep yang lebih maton…,sebab sama2sudah mengeluarkan biaya banyak kalau hasilnya asal jadi tak ada nilai tambahnya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat sketsa dibawah ini adalah gagasan yang diusulkan.

Konsep yang diusung adalah menciptakan warung sate yang masih mempunyai karakter lingkungan pecinan…bentuk atap rumah-rumah pecinan dicoba dihadirkan dengan sentuhan modern. Seandainya cocok dengan yang diimpikan si pemilik silakan dikembangkan kelanjutannya, jika belom pas…anggaplah sebagai upaya membatu memvisualkan gagasan seseorang……kan itu juga pahala hadiahnya, salam.

Senin, 09 Juni 2008

RUMAH SAKIT

gagasan yang diwujudkan

rumah sakit Wonosobo
Bermula dari seorang investor di Semarang yang mencari seorang arsitek muda ( menurut investor itu) yang ngeyel, punya dedikasi idealis dan tak bisa disetir ( pada saat itu diminta untuk mengurangi kualitas dan kuantitas bangunan yang sedang ditangani bersama dan si arsitek mundur ), untuk memberikan ide gagasan pengembangan suatu rumah sakit di wonosobo, dengan satu permintaan mengacu pada 'gleneagle hospital di Singapore'......edan!!. Sebuah kota kecil di Jawa Tengah pengin membangun spt itu...tapi juga angkat topi atas keberanian pemerintah kabupaten untuk mimpinya.
Inilah konsep mimpi yang digagas Tingkat kesulitannya cukup tinggi, bangunan rumah sakit lama (typeC) harus tetap operasional, bangunan baru ( typeB) dibangun secara bertahap, bangunan 4 lantai diatas lahan hanya 7000m2 dan harus terakreditasi depkes RI
Saat ini mimpi tadi sudah 100% terwujud dan dioperasionalkan. Terlepas dari berhasil atau tidaknya( biarkan masyarakat yang menilai ), mimpi ini merupakan mimpi awal untuk kemudian diteruskan dengan mimpi-mimpi tentang kerumahsakitan yang lain dan sekarangpun masih terus bermimpi.

sasonosuko - sebuah revitalisasi


gedung SASONOSUKO
Berbicara tentang Konservasi Bangunan tentunya kita akan membayangkan suatu bangunan kuno yang merana kondisinya. Memang bener lho..hampir semua banguna kuno yang ada di Semarang dan kota-kota lainnya memang merana kondisinya, llha....tidak merana bagaimana karena rata-rata pemiliknya punya kuajiban untuk merawat dan tidak boleh merubah bangunan sembarangan tetapi harus menanggung beban biaya perawatan dan pajak tiap tahunnya yang tak sedikit, sedangkan pemerintah kota tidak/kurang memberikan subsidi atau pengurangan pajak. Akhirnya seperti yang banyak kita lihat, pemilik menjual bangunannya pada pihak ketiga dan lebih merananya lagi pemilik baru akan membongkar dan menggantikan dengan bangunan baru yg sesuai dengan keinginan.Dalam sejarah jual-menjual dan bongkar-membongkar bangunan kuno ini jarang ditemukan bangunan baru yang lebih ciamik dari bangunan lamanya.
Itulah sebabnya ketika salah satu pemilik bangunan di perempatan gendingan ( duwet ) akan merenovasi bangunannya dan kemudian meminta adpis kepada pemerintah kota, mendorong yang punya blog ini untuk menyumbangkan ide.
Karena bangunan lama yang 2 lantai akan di jadikan 3 lantai dengan tidak menjadikan bangunan ini kehilangan identitas dan kesan kuno, maka di idekan untuk menggunakan konsep " modern use of historical disign". Gampangnya yha menggunakan patern yang ada dengan menggunakan material dan teknologi saat ini.
Alhamdulillah gedung ini sekarang dah eksis sebagai toko untuk seuatu merk peralatan rumah yang cukup keren. Terima kasih dan angkat topi untuk pemilik bangunan kuno yang peduli akan bangunannya.

terminal Mangkang & rest area

Adanya suatu kesempatan yang lewat untuk ikut memimpikan kota Semarang sekian tahun lagi merupakan suatu anugrah, sehingga kadang-kadang harus dengan cepat dituntut untuk menggali ide. Barang kali memang belum sempurna tetapi paling tidak akan memberikan acuan dalam mewujudkannya.

Suatu kebahagiaan tersendiri ketika ide yang kita gagas tersebut akhirnya diwujudkan dan menempati satu tempat di kota Semarang serta yang penting bahwa apa yang kita mimpikan tadinya saat ini dapat bermanfaat untuk masyarakat kota.

Terminal Mangkang.

Ide gagasan bermula dengan keinginan pemerintah kota untuk memindahkan terminal Terboyo yang dianggap sudah tidak memenuhi persyaratan ke wilayah Barat kota Semarang. Sementara yang lain berkutat tentang fisibility studi dan konsep pengembangan, ternyata sketsa gagasan datangnya lebih cepat.

Dalam sketsa sdh memikirkan tentang Terminal Bis Terpadu, yaitu dipadukan dengan Mall/pusat perbelanjaan, Stasiun Kereta Api Mangkang dan Pusat perpindahan moda angkutan kota. Jalan Layang digagas untuk menghindari kepadatan lalu lintas di Jalan Raya Mangkang.

Rest Area dan Kebun Binatang

Pada waktu menggagas terminal Mangkang, ternyata pemerintah kota memiliki tanah yang sementara ini tak termanfaatkan ( kebun buah )sehingga meminta ide untuk memberikan nilai tambah.

Ide awal yang muncul adalah menghadirkan ‘ rest area ‘ bagi para pengguna jalan raya yang nyaman dilengkapi fasilitas rumah makan, pemancingan, tempat bermain dan penginapan. Ketika ide ditawarkan cukup responsive tanggapannya tetapi lahan yang ada masih memungkinkan untuk dikembangkan, sehingga ide berikutnya adalah memindahkan kebon binatang Tinjomoyo yang kondisinya hidup segan mati tak mau. Rencana ini sudah mulai tampak terealisasi.