Minggu, 31 Agustus 2008

STASIUN TAWANG-Mengatasi Masalah Fisik Terpadu

abstrak

Stasiun Tawang (Semarang) dibangun pada tahun 1914, saat ini ditetapkan sebagai salah satu bangunan konservasi di kota Semarang. Keberadaannya sebagai salah satu pusat transportasi dan cagar budaya tentunya akan mendapat banyak perhatian dari masyarakat luas. Pada perkembangannya sekarang, stasiun Tawang menerima dampak dari fenomena banjir dan rob yang melanda bagian utara kota Semarang yang diakibatkan oleh penurunan tanah. Dalam mengatasi permasalahan diatas telah banyak pembangunan dan renovasi fisik dari bangunan stasiun Tawang dilakukan, tetapi sebenarnya tidak akan mengatasi masalah yang sebenarnya, mengingat stasiun Tawang tidak menjadi sumber permasalahan tetapi menerima akibat dari permasalahan lingkungan kotanya.

Kata kunci :
Penanganan fisik yang bersifat partial tidak akan efektif mengatasi masalah, penanganan skala kota secara terpadu merupakan solusinya.

Pendahuluan
Secara umum, topografi wilayah Semarang memiliki kemiringan antara 0 sampai 2% dan ketinggian ruang antara 0-3,5 mdpl. Adapun Semarang bagian atas dengan ketingggian antara 90-200 meter dari permukaan laut.

Semarang sudah menjadi langganan banjir dan rob sejak beberapa tahun yang lalu. Kondisi saat ini, jika penanganan banjir tidak terarah, diperkirakan pada 2019 Semarang bawah akan tenggelam. Prediksi itu didasarkan pada penurunan lahan yang terjadi tahun demi tahun, yang semakin lama semakin mengkhawatirkan. Pada sejumlah kawasan, penurunan terjadi hingga 14 cm ( Dr Ir Suripin MEng. ) Dengan tingkat penurunan satu setengah cm di Tugu Muda, maka dalam jangka waktu 10- 20 tahun ke depan daerah tersebut akan menjadi gigir pantai. ''Itu berarti bencana sudah di depan mata. Pemkot perlu memikirkan secara serius banjir yang terjadi selama ini, Data terakhir yang dapat dilihat tingkat penurunan tanah 0 centimeter di SPBU Kaliwiru, Jl Akpol 0,50 cm, Taman Diponegoro 0,54 cm, Lapangan Bayangkara 0,84 cm, Tugu Muda 1,54 cm, dan stasiun poncol 2,4 cm. Penurunan yang cukup tinggi terjadi di sekitar Jembatan BKB 3,00 cm, Jl Kol Sugiyono 3,80 cm, Jl Imam Bonjol 4,60, Perumahan Semarang Indah, 5,00 cm, Jl Ronggowarsito 5,27 cm, Tanggul BKB Tanah Mas 6,27 cm, dan Tanggul Kali Semarang 7,23 cm. Penurunan lebih dari 10 cm terjadi di Bolt B Sriboga Raturaya 13,50 cm dan Bold T Sriboga Raturaya 14,43 cm.

Prediksi tenggelamnya Semarang bawah sebetulnya bukan isapan jempol. Bila dilihat dari alat ukur di Stasiun Tawang 30 tahun yang lalu masih dua meter di atas permukaan laut (mdpl), kini diperkirakan malah minus dari permukaan laut.
Banjir yang selama ini mendera wilayah Semarang harus diperhatikan melalui tiga hal. Antisipasi banjir bisa dilakukan melalui pemanenan air hujan di daerah atas, pembuatan pompa untuk daerah bawah, serta membendung air laut yang masuk ke daratan. ( Dr Ir Suripin MEng. )

Beberapa survey lapangan telah dilakukan oleh beberapa pakar. Dari survei itu diketahui, penyebab utama banjir dan rob adalah sistem drainase belum berfungsi secara maksimal Penyebab lain, kapasitas sungai dan drainase tidak memadai, sedimentasi, kerusakan pintu air dan talut, serta kurangnya kepedulian masyarakat lingkungan terhadap fungsi drainase.

Beberapa usulan pemikiran dan penyelesaian teknis secara partial terhadap stasiun Tawang telah dilakukan, diantaranya dengan di bangunnya polder tawang untuk mengatasi banjir dan rob di kawasan kota lama.

Stasiun Kereta Api Tawang Semarang dalam menghadapi rob mengandalkan tiga pompa air , kondisi posisi saluran buangan di dalam bangunan stasiun lebih rendah dari saluran kota. Genangan air yang cukup tinggi juga terdapat di jalur rel, yakni jalur tiga dan empat. Kereta api dilewatkan di jalur satu dan dua yang genangan airnya tidak terlalu tinggi. (Rahadi Suprato) .Sejak tahun 1990-an hingga sekarang, bagian dalam stasiun termasuk peron pemberangkatan penumpang telah ditinggikan hingga 80 sentimeter.

Dari gambaran di atas, menjadi jelaslah bagi kita bahwa Stasiun Tawang menerima akibat dari kondisi ketidak mampuan system drainase kota Semarang dalam mengatasi permasalahan banjir dan rob yang disebabkan adanya penurunan tanah di pesisir utara kota.

Mengatasi Permasalahan Stasiun Tawang secara terpadu
Pengatasan Penurunan muka tanah di wilayah utara kota Semarang dan stasiun Tawang termasuk di dalamnya tidak dapat dilakukan dengan partial, mengingat penurunan itu merupakan akumulasi dari kejadian pembangunan di kota Semarang yang pada akhirnya akan berakibat pada eksploitasi dan berkurangnya air tanah. Akibat lebih jauh adalah infiltrasi air laut kedalam daratan yang semakin luas juga terjadinya banjir dan rob.
Pada skala mikro, Stasiun Tawang layak berbenah diri untuk mengatasi permasalahan banjir dan rob yang menimpa saat ini, tetapi tentunya punya keterbatasan secara fisik karena termasuk dalam bangunan konservasi.

Pada skala makro, pemerintah kota dan masyarakat juga layak berbenah diri untuk memperkecil atau bahkan meniadakan tingkat penurunan tanah di wilayah Utara kotaSemarang.
Upaya pembenahan baik di skala mikro stasiun Tawang ataupun skala makro kota Semarang harus mempertimbangkan aspek fisik, social, ekonomi dan regulasi secara terpadu untuk menghasilkan kegiatan penyelesaian parmasalahan yang terbaik.
Aspek fisik, mengetengahkan perbaikan dan pelestarian lingkungan/ ecosystem, daerah hijau dan bangunan. Aspek social, mengacu pada peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Aspek Ekonomi, dilaksanakan secara efektif dan efisien dalam jangka panjang dan Aspek regulasi, harus mensosialisaikan pranata hokum dan penegakannya.
Sebagai ilustrasi , mengacu pada pemikiran tentang banjir yang selama ini mendera wilayah Semarang harus diperhatikan melalui tiga hal. Antisipasi banjir bisa dilakukan melalui pemanenan air hujan di daerah atas, pembuatan pompa untuk daerah bawah, serta membendung air laut yang masuk ke daratan.

Pada skala makro perkotaan, konstruksi Sumur Resapan Air (SRA) merupakan alternatif pilihan dalam mengatasi banjir dan menurunnya permukaan air tanah pada kawasan perumahan, karena dengan pertimbangan : a) pembuatan konstruksi SRA tidak memerlukan biaya besar, b) tidak memerlukan lahan yang luas, dan c) bentuk konstruksi SRA sederhana. Sumur resapan air merupakan rekayasa teknik konservasi air yang berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan diatas atap rumah dan meresapkannya ke dalam tanah (Dephut,1994). Manfaat yang dapat diperoleh dengan pembuatan sumur resapan air antara lain : (1) mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya banjir dan erosi, (2) mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air tanah, (3) mengurangi atau menahan terjadinya intrusi air laut bagi daerah yang berdekatan dengan wilayah pantai, (4) mencegah penurunan atau amblasan lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, dan (5) mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah..( Rachmat Mulyana, 2003 ). Disamping itu pembatasan perijinan untuk menggunakan air dalam/sumur artetis dengan meningkatkan distribusi air bersih terutama di kawasan semarang bagian Utara.

Pada skala mikro kawasan stasiun Tawang dapat dilakukan dengan memanfaatkan daerah bebas di kanan kiri rel kereta api ataupun tanah-tanah yang dikuasai PT. KAI sebagai polder yang difungsikan sebagai pembendung dan penangkap masuknya air rob sebelum memasuki kawasan stasiun Tawang, sedangkan disisi Utara stasiun tawang pada setiap tanah yang kosong, baik oleh PT KAI ataupun pemerintah kota Semarang berupaya untuk membuat hutan bakau sebagai barier.

Penutup.
Gagasan diatas sebagai gambaran bentuk penyelesaian secara terpadu terhadap permasalahan stasiun Tawang pada khususnya dan wilayah Utara kota Semarang pada umumnya. Pemerintah kota dan masyarakat harus mempunyai perhatian dan harus didukung dengan kebijakan pemerintah kota dan keseriusan untuk mensosialisasikan dan menegakkannya.